
Zaman sekarang, begitu mendengar kata Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT atau Gemini dalam dunia tulis-menulis, reaksinya langsung macam-macam. Ada yang memandang sinis seolah kita baru saja ketahuan nyontek, ada juga yang berbisik: "Wah, tulisannya bagus, pasti dibantu robot tuh!" Akibatnya, banyak guru dan siswa SMAN 1 Indra Makmu yang mendadak jadi pemberani di belakang layar tapi pemalu di depan publik; pakai AI sih iya, tapi kalau ditanya selalu ngeles itu murni bisikan gaib jam dua malam.
Lantas, apakah benar membikin tulisan dibantu AI itu dosa besar dalam dunia literasi? Tentu saja tidak. Supaya tidak gagal paham, mari kita pakai analogi paling sederhana tentang profesor matematika dan kalkulatornya.
Bayangkan seorang profesor jenius sedang menghitung rumus fisika kuantum yang rumitnya minta ampun. Ketika beliau menekan tombol kalkulator untuk menghitung 1.432 \times 987, apakah kalkulator itu langsung mendadak lebih pintar dari sang profesor? Tentu saja tidak! Kalkulator itu cuma alat hitung yang patuh; dia tidak tahu alasan angka itu dihitung, tidak paham teori di baliknya, dan tidak bakal bisa menemukan rumus baru sendiri.
Nah, posisi AI dalam membuat tulisan itu persis seperti kalkulator bagi profesor tadi. AI bisa membantu merapikan kalimat yang acak-acakan, mencarikan sinonim kata biar kelihatan keren, atau memancing ide saat otak kita mendadak blank. Namun ingat, AI tidak punya perasaan, tidak pernah merasakan indahnya alam Indra Makmu, tidak tahu gurihnya gorengan kantin sekolah, dan tidak punya kepedulian sosial.
Ide dasar, pesan moral, pengalaman hidup, serta gagasan kritis yang ada di dalam tulisan tetaplah murni buah pikiran manusia. AI itu cuma asisten pesuruh yang bertugas merapikan piring dan sendoknya saja, bukan yang memasak menunya.
Bagi para siswa SMAN 1 Indra Makmu, menggunakan AI itu sangat boleh, yang dilarang itu cuma copy-paste mentah-mentah tanpa dibaca lagi karena itu namanya kemalasan bertingkat. Jadikan AI sebagai kawan berdiskusi untuk memperkaya gagasanmu, lalu oleh kembali kalimatnya menggunakan gaya bahasamu sendiri.
Bagi Bapak dan Ibu guru, kalau menghitung nilai siswa pakai kalkulator tidak ada yang marah, tentu pakai AI buat bantu merancang draf bahan ajar juga sah-sah saja. Justru guru yang mau mengeksplorasi teknologi adalah sosok inspiratif yang siap membimbing generasi masa depan di era digital.
Membuat tulisan dibantu AI tidak akan bikin otak kita otomatis menyusut atau kehilangan taji. Malu yang sebenarnya adalah ketika kita enggan belajar, menolak perkembangan zaman, atau menyalahgunakan teknologi dengan mengklaim tulisan AI secara utuh tanpa ada proses berpikir kritis sama sekali.
Selama kemudi utamanya—yaitu ide, rasa, dan gagasan—tetap dipegang oleh otak dan hati kita, mari manfaatkan AI seluas-luasnya. Jangan malu-malu lagi, buka laptopmu, panggil asisten AI-mu, dan lahirkan karya-karya hebat berikutnya dari SMAN 1 Indra Makmu!
Bagikan:

