
Menulis merupakan pengungkapan perasaan dan pikiran di atas kertas dalam bentuk konsep. Terkadang seseorang menulis karena hobi yang tertanam dalam dirinya, sehingga menulis menjadi kebiasaan dan rutinitas yang dilakukan setiap saat. Ada pula seseorang menulis karena keinginan atau kebutuhan yang mengharuskan untuk menghasilkan sebuah karya. Bagaimanapun tujuannya, menulis bukanlah talenta instan melainkan suatu keterampilan yang diawali dengan proses latihan yang berulang.
Ketika ada sebagian orang mengatakan menulis adalah hal yang sulit, itu karena dia belum memulai, masih baru sebatas membayangkan. Kebanyakan orang ketika hendak menulis terlalu banyak berpikir bagaimana menulis dengan benar, padahal hal yang paling penting adalah bagaimana menuangkan pemikiran atau kata hati dengan jujur. Adakalanya ketika hendak memulai, otak kita takut tulisannya jelek, takut salah, padahal tulisan pertama yang kita buat itu boleh jelek, dan itu adalah hal yang wajar dalam proses pembelajaran. Proses awal menulis itu tidak luput dari kesalahan, karena pada dasarnya rumus menulis itu diawali dari: Tulis dulu-Jelek dulu-Baru perbaiki.
Pengalaman seperti ini sering terjadi pada kita, ketika kita ingin terlihat hebat di mata orang lain, sehingga kita lupa bahwa setiap penulis hebat pun pernah memulai dari tulisan yang berantakan. Jika kita menulis menunggu inspirasi dulu baru menulis, maka sampai besok pun kita tidak akan pernah menulis, karena inspirasi itu akan datang ketika kita mulai menulis. Sama seperti ketika kita akan mencuci setumpuk pakaian kotor, untuk memulai mencuci rasanya berat dan malas, tapi begitu memulai mencuci satu atau dua pakaian, tak terasa semuanya selesai. Begitu pula dengan menulis, harus diawali dengan belajar sekalipun kita orang yang berpendidikan tinggi atau seorang pendidik, bagaimanapun kondisinya kita harus menjadi “murid” di hadapan kertas kosong.
Oleh karena itu marilah wahai rekan-rekan pendidik, mulailah menulis apa pun yang ada di dalam benak dan pikiran kita. Tumpahkan semua yang kita lihat, dengar, dan rasakan untuk bisa menjadi warisan kecil yang hidup lebih lama dari usia kita, setidaknya agar siswa-siswi kita tahu bahwa guru mereka pun tidak pernah berhenti untuk terus belajar.
Indra Makmu, 23 Oktober 2026
Ngatmini Simorangkir, S.Pd
Bagikan:


